5 Cara Makan Berujung Maut

Hidup butuh makan, itu benar. Dan makanan yang dimakan pun semestinya yang dapat membuat kita hidup, dan bukan justru membuat kita mati. Dalam keseharian, kita dihadapkan pada berbagai jenis makanan yang justru membuat hidup kita terancam. Penggunaan pewarna tekstil dalam makanan, pengawet mayat dalam ikan yang kita santap hingga penguat rasa yang hanya membuat sel-sel kanker tumbuh subur, selalu berada di sekitar kita. Kondisi ini kian diperparah dengan kebiasaan kita menjalani budaya makan yang tidak sehat. Apa saja budaya makan yang justru membuat kita tidak sehat atau bahkan terancam kematian? Berikut kami tampilkan 5 dari sekian banyak cara makan yang dapat mendatangkan marabahaya.

Makan Tanpa Aturan
Manusia hidup tidak bisa lepas dari yang namanya aturan, begitu pula dengan tubuh manusia. Semua organ yang ada dalam tubuh bekerja sesuai dengan jam kerja yang telah ditentukan. Ini biasa kita kenal dengan istilah “jam biologis”. Ada saatnya organ-organ pencernaan bekerja, ada pula saatnya organ-organ sekresi bekerja. Semua telah terjadwal rapi. Bila jadwal ini kita langgar, maka kerusakan sistem kerja organ tubuh yang akan terjadi. Buntutnya, berbagai penyakit akan menghampiri.
Misal, jam 20-22 adalah saat metabolisme tubuh dan pergerakan usus berkurang. Pada jam ini orang-orang tidak banyak melakukan aktivitas sehingga tidak banyak kalori yang dibutuhkan. Jika Anda terbiasa makan pada jam-jam ini, maka banyak kalori yang tidak tidak diubah menjadi energi dan akhirnya tertimbun menjadi lemak. Akibatnya tubuh akan semakin gemuk dan timbunan lemak dimana-mana termasuk dalam pembuluh darah di sekitar jantung.
Ketika pembuluh darah tersumbat oleh timbunan lemak, maka alirah darah ke jantung menjadi terhambat. Kalau aliran darah ke jantung tidak tersendat, maka serangan jantung pun tinggal menunggu waktu.



Yang Penting Kenyang atau Yang Penting Enak
Ini adalah budaya makan yang salah pada dua level masyarakat, masyarakat kelas menengah ke bawah dan masyarakat kelas menengah ke atas. Bagi masyarakat menengah ke bawah, prinsip “yang penting kenyang” harus dipegang teguh karena keterbatasan ekonomi. Makan yang penting kenyang tanpa peduli gizi maupun rasa makanan. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan asupan gizi yang memadai, pertumbuhan otak terganggu, semakin banyak bayi dengan gizi buruk yang berujung pada kematian balita.
Sementara di level menengah ke atas, prinsip “yang penting enak” masih menjadi tolok ukur dalam memuaskan kebutuhan perut. Didukung kemampuan finansial yang memadai, mereka selalu memanjakan lidah dengan kelezatan berbagai makanan tanpa peduli sehat atau tidakkah makanan tersebut. Makanan berlemak lengkap dengan MSG dosis tinggi membuat mereka tak sadar berbagai ancaman penyakit maut mengintai. Di kalangan masyarakat ini, kebanyakan menderita obesitas, kolesterol dan tekanan darah tinggi serta gangguan pada pembuluh darah. Ujung-ujungnya biasanya berupa penyakit jantung, stroke, diabetes bahkan kanker.

Menilai Makanan Dari Kemasan
Terkadang kita lupa, membeli sebuah produk makanan karena tertarik dengan desain kemasan dan nama produk tersebut. Padahal ini keliru. Semestinya yang kita perhatikan adalah komposisi (ingredients), daftar kandungan nutrisi dan tanggal kadaluwarsa.

Acuh Tak Acuh Terhadap Zat Aditif
Tak peduli terhadap zat pewarna, pengawet, penyedap dan zat-zat aditif lainnya. Ini biasa terjadi khususnya pada anak-anak, meski tidak menutup kemungkinan banyak juga terjadi pada orang dewasa. Anak memang suka dengan warna-warna yang menarik dan mencolok, termasuk dalam hal makanan. Maka tak heran bila banyak pedagang jajanan di sekolah-sekolah yang berbuat curang dengan menambah pewarna untuk membuat dagangannya menarik di mata anak-anak. Yang jadi masalah, zat pewarna yang digunakan bukan pewarna yang diijinkan untuk makanan, tapi pewarna sintesis yang berbahaya, seperti pewarna tekstil. Pewarna sintesis memang mampu membuat warna lebih hidup sehingga makanan menjadi lebih menarik. Namun dibalik itu, pewarna ini sangat bersifat racun dan dapat memicu tumbuh suburnya sel-sel kanker.

Mementingkan Hobi Tanpa Peduli Gizi
Beberapa tahun terakhir, dunia kuliner berkembang sangat pesat. Berbagai paket wisata kuliner ditawarkan. Para pehobi makanan lezat pun bermunculan. Mereka rela menempuh perjalanan jauh untuk menemukan makanan terlezat yang pernah ada.
Akhirnya muncul kebiasaan, makanan karena suka/hobi dan bukan karena lapar. Imbasnya, tubuh akan selalu dijejali dengan berbagai jenis makanan yang sesuai dengan hobi meski sebenarnya tubuh tidak memerlukannya. Singkatnya, lapar nggak lapar, yang penting makan.
Selain beresiko membebani lambung secara berlebihan, hobi seperti ini akan mendatangkan resiko berbagai penyakit gawat. Karena berbagai makanan yang dikonsumsi tanpa peduli sehat atau tidak. Dan ujungnya akan kembali seperti empat point di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *