5 Herbal Pembasmi Kanker

Kanker adalah salah satu sillent killer yang ditakuti oleh banyak orang. Bersama jantung dan diabetes, kanker menduduki peringkat tiga besar di Indonesia sebagai penyakit yang paling banyak memakan korban jiwa. Yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa pasien meninggal akibat kanker kian hari kian meningkat.

Kanker lebih banyak disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Makanan yang tidak sehat, jarang olahraga dan lingkungan yang tercemar. Tak heran bila akhir-akhir geliat semangat back to nature semakin nampak. Masyarakat mulai melirik terapi pengobatan berbasis alam, apalagi berbagai tanaman obat yang dibutuhkan untuk pengobatan kanker cukup melimpah di negeri ini. Banyak sekali tanaman obat yang berpotensi sebagai antikanker, diantara 5 tanaman obat di bawah ini.

 

Tapak Dara

Tapak Dara sebelumnya hanya dikenal sebagai tanaman hias. Namun sejak dilakukannya penelitian pada tahun 1950-an, diketahui Tapak Dara mampu membasmi kanker, khususnya leukimia. Ini disebabkan karena tanaman bernama latin Catharanthus roseus ini memiliki kandungan senyawa aktif Vincristine dan Vinblastine.



Di Madagaskar, dua orang ahli tumbuh-tumbuhan, yaitu Berr dan Noble melakukan penelitian pada satu tanaman yang pada waktu itu kerapkali digunakan masyarakat lokal untuk mengobati diabetes. Hasil dari penelitian tersebut, mereka berhasil mengisolasi senyawa alkaloid bernama vincaleukoblastine (vinblastine. Senyawa kedua (vincristine) ditemukan oleh Gordon Svoboda beserta timnya pada tahun 1957. Mereka kemudian melakukan ujicoba terhadap seekor mencit yang terinfeksi leukimia. Ternyata pembelahan sel kanker dapat ditekan dan memberikan harapan hidup 60% – 80%.

Senyawa alkaloid ini bekerja dengan cara menghambat pembelahan mitosis sel kanker. Vincristine dan viblastine mengganggu pembentukan mikrotubulus sehingga sel kanker tidak mampu melakukan mitosis. Senyawa aktif Tapak Dara juga digunakan pada kemoterapi leukimia, kanker cabang tenggorokan, tumor pada ginjal, kanker payudara dan berbagai kanker ganas pada otot dan urat saraf. Namun perlu diingat, senyawa jenis ini sangat beracun, sehingga penggunaannya tidak boleh sembarangan. Ketepatan dosis harus sangat diperhatikan.

 

Keladitikus

Keladitikus memiliki nama latin Typhonium flagelliforme. Keladitikus termasuk tanaman obat yang paling menonjol yang digunakan sebagai terapi antikanker. Khasiat keladitikus sebagai antikanker pernah dibuktikan oleh Dr. Dyah Iswantini dari Pusat Studi Biofarmaka IPB. Dalam penelitian tersebut didapat hasil bahwa ekstrak air dan etanol keladitikus mampu menghambat enzim tirosin kinase yang mempengaruhi perkembangan sel-sel kanker.

Penelitian lain juga pernah dilakukan oleh Peni Indrayudha dari Fakultas Farmasi UMS. Peni membuktikan bahwa ekstrak natrium klorida daun keladitikus mengandung Ribosom Inactivating Protein (RIPs). Ekstrak daun keladitikus tersebut ternyata mampu memotong rantai DNA sel kanker. Akibatnya pembentukan protein sel terhambat sehingga sel kanker  gagal berkembang.

Untuk terapi pengobatan, RIPs menampilkan kepiawaiannya dalam menghentikan perkembangan sel kanker dengan merontokkannya tanpa merusak jaringan di sekitar sel tersebut. Selain itu RIPs melakukan pemblokiran terhadap sel kanker sehingga tidak mengalami pertumbuhan.

 

Jamur Ling zhi

Raja herbal dari Cina memiliki banyak sekali manfaat untuk kesehatan. Jamur bernama latin Ganoderma lucidum ini mengandung polisakarida yang dikenal sebagai pembangun imunitas tubuh. Mengkonsumsi ling zhi secara rutin akan merangsang produksi interferon I dan II yang memiliki efek antikanker.

Efek antikanker ling zhi ditunjukkan dengan terhambatnya protein kinase C, senyawa yang dibutuhkan sel kanker untuk berkembang.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. drh. Sri Agus Sujarwo dari Fakultas Kedokteran UNAIR membuktikan hal itu. Dengan menggunakan sel paru-paru yang terserang kanker, Prof. Sujarwo melakukan uji in vivo. Setelah melakukan serangkaian tes dengan ekstrak jamur ling zhi, didapat hasil bahwa setelah diberi 10 mikroliter per ml ekstrak ling zhi, sel kanker berhenti berkembang.

Selain mampu menghentikan pertumbuhan sel kanker, ling zhi juga mampu mengatasi tumor. Di daerah Banyuanyar, Sukoharjo, Jawa Tengah, pernah terjadi satu kasus dimana seorang penderita tumor getah bening sembuh setelah mengkonsumsi ling zhi.

Khasiat antitumor yang dimiliki Ling zhi disebabkan oleh kandungan polisakarida. Dengan bantuan vitamin C, polisakarida kemudian diubah menjadi ogiglukan sederhana yang mudah diserap tubuh. Senyawa karbohidrat itu merangsang makrofag untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menyerang antigen seperti bakteri, virus, dan sel kanker.

 

Pinang

Sebenarnya pinang sudah cukup familiar di telinga kita. Namun yang kita kenal selama ini hanya batang pohonnya saja yang biasa dijadikan arena lomba memanjat pohon saat tujuhbelasan atau panjat pinang. Pinang memiliki buah yang ternyata memiliki khasiat luar biasa dalam menumpas kanker.

Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Dr. Edy Meiyanto dari Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta,diketahui ekstrak etanol biji tumbuhan bernama latin Areca catechu ini mampu menghambat pertumbuhan dan proliferasi sel kanker payudara. Dr. Meiyanto melakukan uji in vitro terhadap sel kanker payudara MCF-7, yaitu jenis sel kanker yang resisten terhadap agen kemoterapi.

Setelah menginkubasi selama 48 jam sel MCF-7 dalam 100µg/ml ekstrak biji pinang, sebanyak 48% pertumbuhan sel kanker terhambat. Ekstrak biji pinang juga menurunkan proliferasi dan memacu proses penghancuran sel kanker atau apoptosis.

 

Sarang Semut Papua

Inilah idola baru dalam dunia herbal di Indonesia. Tumbuhan ‘tukang nebeng’ ini bernama latin Myrmecodia pendans. Meski belum lama dikenal luas, sarang semut telah lama digunakan masyarakat Papua untuk mengobati berbagai penyakit, seperti kuning, infeksi hati dan lambung, maag, tumor bahkan kanker.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Qui Kim Tran dari Universitas Nasional Hochimin, Vietnam. Bersama tiga rekannya dari Toyota Medical anda Pharmaceutical Univeristy, mengadakan penelitian dengan menggunakan tanaman sarang semut berbobot 2-3kg.

Sarang semut tersebut kemudian diekstrak dengan berbagai pelarut, seperti air, methanol, dan campuran methanol-air. Sebagai “korban percobaan”, mereka menggunakan maraca lentos, yaitu zat yang menumbuhkan tiga sel kanker yang sangat metatesis alias mudah menyebar ke bagian tubuh lain, seperti kanker serviks, kanker paru, dan kanker usus.

Hasil ekstraksi sarang semut itu kemudian diberikan kepada sel-sel kanker yang dihasilkan oleh maraca lentos. Hasilnya, sungguh luar biasa. Sarang semut ternyata mampu melumpuhkan sel-sel kanker tersebut. Sarang semut memiliki aktivitas antiproliferasi yaitu lawan dari aktivitas proliferasi (pertumbuhan sel yang amat cepat dan abnormal).

Kim Tran dan rekan-rekannya menuturkan bahwa seluruh ekstrak sarang semut itu menekan proliferasi sel tumor manusia. Dalam uji itu terbukti tingkat efektivitas EC50 mencapai 9,97 mg/ml pada ekstrak methanol. Artinya, hanya dengan dosis kecil, yaitu 9,97 mg/ml, ekstrak sarang semut mampu menekan 50% laju pertumbuhan sel kanker. Hasil riset tersebut semakin meyakinkan orang dengan pengalaman empiris yang ada, bahwa banyak orang sembuh dari kanker melalui terapi Myrmecodia Pendans alias sarang semut, ahli kanker dari Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *