Berbukalah dengan Kurma, Bukan dengan “Yang Penting Manis”

Bulan Ramadhan telah tiba. Saatnya bagi umat Islam di seluruh dunia untuk menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Geliat semarak bulan puasa mulai nampak. Mulai ramainya masjid dengan berbagai kegiatan keagamaan. Makin gencarnya pusat-pusat perbelanjaan mengobral diskon busana muslim dan berbagai perniknya. Hingga menjamurnya pasar-pasar tiban yang menjajakan beraneka ragam sajian berbuka puasa dan tentu saja hadirnya sang primadona di bulan Ramadhan, yaitu kurma.

Buah kurma semakin mendapat tempat di hati masyarakat dunia termasuk Indonesia. Buah berasa manis asal Timur Tengah ini menjadi menu utama kala berbuka puasa. Bagi umat Islam berbuka dengan kurma bukan tanpa alasan. Berbuka dengan kurma sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Dalam sebuah riwayat dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah pernah berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka beliau memakan tamr (kurma kering) dan kalau tidak ada tamr, maka beliau meminum air, seteguk demi seteguk” (HR. Abu Dawud, Ad-Daruquthni dan Al-Hakim).

Hadits diatas mengandung beberapa pelajaran berharga, antara lain :

  1. Dianjurkannya untuk bersegera dalam berbuka puasa.
  2. Dianjurkannya untuk berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah), apabila tidak ada maka boleh memakan tamr (kurma kering), jika tidak ada pula maka minumlah air.
  3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan beberapa buah kurma sebelum melaksanakan shalat. Hal ini merupakan cara pengaturan yang sangat teliti, karena puasa itu mengosongkan perut dari makanan sehingga liver (hati) tidak mendapatkan suplai makanan dari perut dan tidak dapat mengirimnya ke seluruh sel-sel tubuh. Padahal rasa manis merupakan sesuatu yang sangat cepat meresap dan paling disukai liver (hati) apalagi kalau dalam keadaan basah. Setelah itu, liver (hati) pun memproses dan melumatnya serta mengirim zat yang dihasilkannya ke seluruh anggota tubuh dan otak.
  4. Air adalah pembersih bagi usus manusia dan itulah yang berlaku alamiyah hingga saat ini.

 

Suyanti Satuhu dalam bukunya Kurma, Khasiat dan Olahannya memaparkan, bahwa pada saat orang berpuasa, asupan energi dalam tubuh berkurang sebesar 20 – 30% sehingga tubuh lebih cepat lemas dan lelah. Oleh karena itu diperlukan asupan gula yang dapat diabsorpsi ke dalam tubuh untuk menggantikan energi yang hilang.



Ada salah kaprah pada sebagian orang ketika tiba waktu berbuka puasa. Orang biasa langsung menyatap nasi lengkap dengan lauk pauknya padahal ini kurang bagus untuk tubuh yang membutuhkan asupan untuk mengembalikan energi. Ini disebabkan karena nasi merupakan sumber karbohidrat kompleks yang memerlukan waktu pencernaan yang relatif lama. Sehingga pemulihan energi setelah puasa juga akan memakan waktu yang lama.

Makanan yang tepat untuk orang yang berbuka puasa adalah makanan dengan kandungan gula sederhana karena memiliki energi yang siap pakai, dan ini terdapat dalam kurma. Kurma memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sehingga mampu menyuplai energi yang mencukupi pada saat orang berbuka puasa. Di antara kandungan kurma adalah glukosa, fruktosa dan sukrosa. Uniknya, meski kandungan gula yang ada pada kurma cukup tinggi, yakni mencapai 70%, zat gula tadi sudah diproses secara alami dan tidak membahayakan kesehatan.

Sebagai contoh fruktosa misalnya, mudah dicerna dan dibakar oleh tubuh. Fruktosa akan diubah menjadi glukosa dengan cepat sehingga langsung diserap oleh organ pencernaan dan dikirim ke seluruh tubuh. terutama organ-organ pusat, seperti otak, saraf, dan sel darah merah. Fruktosa bersama zat salyolosa akan berpengaruh untuk membangkitkan gerakan peristaltik usus.

Gula yang terkandung dalam kurma rata-rata baru terserap habis dalam tempo 45-60 menit berbeda dengan segelas air, yang mengandung glukosa seperti teh manis atau sirup, akan diserap oleh tubuh dalam waktu 20-30 menit. Inilah alasan mengapa kurma sangat bermanfaat dalam menu berbuka puasa atau sahur karena dapat menunda rasa lapar yang muncul di saat berpuasa.

Kebanyakan varietas kurma mengandung glukosa, yakni jenis gula yang ada dalam darah, atau fruktosa, yakni jenis gula yang terdapat dalam sebagian besar buah-buahan. Namun, satu varietasnya yang bernama Deglet Nour yang tumbuh di Kalifornia hanya mengandung gula sukrosa, yakni gula yang dikenal sebagai gula pasir.

Penyerapan gula kurma di dalam tubuh lebih cepat bila dibandingkan dengan daya absorbsi pati nasi yang memerlukan waktu berjam-jam. Itulah sebabnya kurma merupakan makanan yang sangat baik untuk berbuka puasa karena dapat menyuplai asupan energi secara cepat. Oleh karena itu, berbukalah dengan kurma, bukan dengan yang penting manis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *