Manfaat Sarang Semut Papua

Nama lengkapnya Myrmecodia Pendans. Dia spesialis mengobati kanker dan tumor bahkan penyakit-penyakit ganas lainnya seperti jantung, stroke, ginjal, paru-paru, asam urat dan rematik. Meski memiliki skill yang sangat mumpuni, namun bila dilihat dari penampilan memang tidak bisa dibilang menarik. Pendek, gendut, berbulu dan paling suka nangkring di atas pohon. Maklum, namanya juga bukan manusia. Lho? Lalu apa dong?

Ya, Myrmecodia Pendans adalah nama latin dari salah satu jenis tanaman asli Papua. Orang Papua biasa mengenalnya dengan sebutan Sarang Semut. Meski nama Papua kerapkali melekat pada tanaman sarang semut, tanaman ini tidak hanya tumbuh di Papua saja. Sarang semut juga tumbuh di daerah lain seperti Ambon, Sumatera Barat, Sulawesi Utara dan Kalimantan. Tapi sarang semut yang tumbuh di Papua memiliki jumlah varian terbanyak, yaitu mencapai 10 varietas. Di Papua, sarang semut banyak di jumpai di hutan belantara Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya dan Paniai.

Di kalangan masyarakat Papua, sarang semut secara tradisional telah lama digunakan sebagai campuran makanan dan obat untuk menyembuhkan penyakit. Secara empiris, sarang semut terbukti berkhasiat mengobati penyakit-penyakit ganas seperti kanker dan tumor. Tak hanya itu, sarang semut juga berkhasiat untuk meningkatkan stamina.



Mungkin Anda masih ingat, orang mana yang paling sering memenangi perlombaan lari di negeri ini? Ya, orang Papua. Kita pun mengakui bahwa orang Papua memiliki stamina di atas rata-rata orang Indonesia. Tidak menutup kemungkinan bahwa keunggulan orang Papua dari sisi stamina dipengaruhi oleh budaya makan mereka. Salah satunya sarang semut ini.

Keahlian Myrmecodia Pendans (sarang semut) dalam membasmi kanker bukan sekedar kepercayaan masyarakat Papua atau hanya berdasar pengalaman empiris saja. Beberapa penelitian telah dilakukan dan membuktikan bahwa sarang semut bukan saja berguna sebagai pencegah kanker, namun juga obat alternatif yang mampu mematikan sel-sel kanker.

Disebutkan oleh deherba.com, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Qui Kim Tran dari Universitas Nasional Hochimin, Vietnam. Bersama tiga rekannya dari Toyota Medical anda Pharmaceutical Univeristy, mengadakan penelitian dengan menggunakan tanaman sarang semut berbobot 2-3kg.

Sarang semut tersebut kemudian diekstrak dengan berbagai pelarut, seperti air, methanol, dan campuran methanol-air. Sebagai “korban percobaan”, mereka menggunakan maraca lentos, yaitu zat yang menumbuhkan tiga sel kanker yang sangat metatesis alias mudah menyebar ke bagian tubuh lain, seperti kanker serviks, kanker paru, dan kanker usus.

Hasil ekstraksi sarang semut itu kemudian diberikan kepada sel-sel kanker yang dihasilkan oleh maraca lentos. Hasilnya, sungguh luar biasa. Sarang semut ternyata mampu melumpuhkan sel-sel kanker tersebut. Sarang semut memiliki aktivitas antiproliferasi yaitu lawan dari aktivitas proliferasi (pertumbuhan sel yang amat cepat dan abnormal).

Kim Tran dan rekan-rekannya menuturkan bahwa seluruh ekstrak sarang semut itu menekan proliferasi sel tumor manusia. Dalam uji itu terbukti tingkat efektivitas EC50 mencapai 9,97 mg/ml pada ekstrak methanol. Artinya, hanya dengan dosis kecil, yaitu 9,97 mg/ml, ekstrak sarang semut mampu menekan 50% laju pertumbuhan sel kanker. Hasil riset tersebut semakin meyakinkan orang dengan pengalaman empiris yang ada, bahwa banyak orang sembuh dari kanker melalui terapi Myrmecodia Pendans alias sarang semut, ahli kanker dari Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *