Mengenal Propolis dan Manfaatnya

Propolis atau akrab disebut Lem Lebah adalah zat yang dihasilkan oleh lebah dan telah dimanfaatkan oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Bagi koloni lebah, propolis merupakan pelindung sarang mereka dari berbagai gangguan, khususnya bakteri dan kuman yang masuk ke sarang mereka. Perlindungan propolis yang memiliki sifat disinfektan dibutuhkan oleh koloni lebah untuk melindungi ratu lebah, telur dan bayi mereka. Propolis juga berguna untuk melindung madu dari berbagai pencemaran yang mungkin terjadi.

Pemanfaatan Propolis
Sifat propolis sebagai disinfektan alami juga bermanfaat untuk kesehatan manusia. Bangsa Yunani tercatat sebagai bangsa pertama yang memanfaatkan khasiat propolis yang kemudia oleh bangsa Romawi pemanfaatan dan pengetahuan tentang propolis semakin berkembang. Selain Yunani dan Romawi, bangsa Mesir kuno juga telah menggunakan propolis untuk pengobatan dari berbagai penyakit. Sementara itu di kalangan masyarakat suku Inca, propolis biasa digunakan untuk mengobati pembengkakan dan peradangan dengan cara dioleskan.

Di era modern, pemanfaatan propolis semakin berkembang pesat. Pada masa Perang Dunia II, dokter-dokter di Rusia meggunakan salep propolis untuk mengobati para prajurit yang terluka. Rusia juga aktif melakukan berbagai penelitian untuk mengetahui manfaat propolis. Diawali penelitian tentang efek antimikroba propolis pada tahun 1947, Rusia semakin gencar melakukan penelitian yang berfokus pada empat potensi propolis, yaitu sebagai antibiotik, antitumor, antioksidan dan antiinflamasi.

Kandungan Propolis
Propolis memiliki kandungan yang berkhasiat untuk melumpuhkan dan mematikan bakteri. Beberapa kandungan propolis diantaranya, resin dan balsem 55%, lilin 30%, minyak aromatik 10% dan bee polen 5%. Meski memiliki fungsi hampir sama dengan penisilin, propolis memiliki kelebihan karena tidak menimbulkan efek samping sebagaimana penisilin.



Di dalam propolis juga terkandung bioflavonoids yang berfungsi memberikan perlindungan dari serangan infeksi virus. Virus biasanya memiliki selubung yang terbuat dari protein. Selama selubung protein ini utuh, maka virus tidak membahayakan. Nah, fungsi flavonoids dalam propolis adalah untuk menjaga agar selubuh tetap utuh sehingga virus tidak berbahaya dan tidak aktif.

Propolis sebagai Antibiotik Alami
Penelitian yang dilakukan The Natural Heart anda Lung Institute, London, menunjukkan fakta bahwa bioflavonoids yang terkandung dalam propolis mampu melumpuhkan dan membinasakan bakteri yang kebal terhadap antibiotik sintesis. Efek antibiotik propolis terbukti dengan ditemukannya seekor tikus dalam sarang lebah yang telah mati selama kurang lebih 5 tahun dalam keadaan tidak membusuk. Propolis sangat sensitif terhadap keberadaan bakteri E. coli, virus influensa, herpes dan salmonella. Sensitivitas yang tinggi terhadap jamur yang menyebabkan penyakit kewanitaan.

Propolis sebagai Antikanker
Dalam sebuah review tentang propolis berjudul “Biological Activity of Bee Propolis in Health and Desease” yang ditulis oleh Dr. Mahmoud Loftfy, seorang ahli rekayasa genetik dan bioteknologi dari Mesir, disebutkan bukti-bukti efektivitas propolis dalam membunuh sel-sel kanker secara in vitro. Oleh karena itu propolis memiliki potensi yang sangat bagus untuk dapat digunakan sebagai bahan pembantu dalam penanganan kanker, baik setelah menjalani operasi pengangkatan sel kanker maupun pasca kemoterapi. Propolis juga dapat digunakan sebagai bahan proteksi dan efek “keracunan” yang terjadi akibat kemoterapi.

Propolis Meningkatkan Stamina
Bioflavonoids yang ada dalam propolis selain berfungsi untuk membuat virus menjadi tidak aktif juga berperan meningkatkan sistem imunitas. Bioflavonoids propolis mampu meningkatkan limfosit T dan makrofag, dimana keduanya sangat berguna untuk memusnahkan “penyusup” dalam tubuh seperti bakteri, sel kanker/tumor dan virus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *