Tingkatan Obat Herbal yang Beredar di Pasaran

Indonesia sudah sekian lama dikenal memiliki kekayaan flora yang sangat berlimpah. Berbagai jenis tanaman tumbuh subur di negeri ini, tak terkecuali tanaman obat sebagai bahan obat-obatan herbal. Bahkan untuk urusan tanaman obat, Indonesia menduduki peringkat dua setelah Brazil, sebagai negara penyedia tanamanĀ  obat terbesar di dunia.

Potensi besar seperti jelas tidak bisa kita sia-siakan. Pasar herbal masih terbuka luas dan akan terus berkembang. Permintaan tanaman obat tidak terbatas hanya pada pabrik jamu, namun juga pada terapis herbal, pasar obat herbal dan ratusan industri kecil obat tradisional, yang tentu saja membutuhkan pasokan yang tidak sedikit.

Konsumen obat herbal kini tidak terbatas di kalangan pedesaan. Bahkan kecenderungan konsumen herbal saat ini ada pada kalangan menengah ke atas. Menurut data Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia, saat ini sekitar 30-40% dari seluruh masyarakat Indonesia sudah beralih atau tertarik dengan pengobatan herbal atau tradisional. (Tabloid Peluang Usaha, edisi 25 2011)



Dulu, bila disebutkan kata obat tradisional, maka yang terlintas di benak kita adalah ramuan berwarna hitam pekat dan berasa sangat pahit. Namun, dengan semakin meluasnya segmen pasar obat herbal, mau tidak mau para produsen harus pandai berinovasi untuk menghasilkan bentuk sediaan obat herbal yang praktis, tak mudah rusak dan dapat dikonsumsi oleh siapa saja termasuk anak-anak.

Sebagian masyarakat memang masih fanatik dengan bentuk obat tradisional yang masih asli, yaitu berupa bahan mentah yang harus diolah lagi sebelum dikonsumsi. Namun sebagian lagi, khususnya kalangan menengah ke atas, mereka lebih memilih obat herbal dalam kemasan praktis, aman, mudah dibawa kemana-mana dan yang pasti, tidak pahit.

Ada bermacam-macam bentuk dan wujud obat herbal tradisional yang beredar di pasaran. Diantara ribuan produk herbal itu ada yang berbentuk kapsul, tablet, sirup, serbuk bahkan berupa teh celup seperti yang marak akhir-akhir ini. Dan masih ada juga yang tetap bertahan dalam bentuk tradisional berupa bahan mentah. Dari sekian banyak jenis dan bentuk obat herbal yang ada, secara garis besar dapat kita kelompokkan menjadi 4 bentuk sediaan :

  1. Simplisia

Asal katanya simple, artinya sederhana. Simplisia adalah sediaan herbal yang masih bentuk aslinya, yakni berupa akar, batang, daun, bunga maupun biji, dan belum melalui proses pengolahan apapun.

Simplisia diperjualbelikan secara bebas di pasar tradisional, bahkan di beberapa pasar modern pun kini menyediakannya.

Dalam perkembangannya, simplisia tidak melulu berupa daun, batang atau akar, tapi mulai berubah bentuk menjadi serbuk kering. Para peminat simplisia biasanya dari kalangan pedesaan. Mereka seolah tidak puas dan kurang yakin akan khasiatnya, jika mengkonsumsi obat herbal dalam bentuk kapsul. Sebagaimana sebagian masyarakat pedesaan yang kurang yakin dengan obat puskesmas, kalau belum disuntik. Mereka lebih percaya khasiat obat herbal ditentukan dengan rasa pahit obat tersebut. Semakin pahit, maka semakin manjur.

 

  1. Jamu

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jamu adalah obat yg dibuat dr akarakaran,

daun-daunan, dan sebagainya. Di kalangan herbalis, jamu dikenal sebagai sekumpulan tanaman obat yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penyakit maupun mengatasi penyakit. (Hery Soeryoko, 2011).

Ada perbedaan antara jamu dengan simplisia. Simplisia dapat diperjualbelikan secara bebas tanpa memerlukan ijin dari instansi terkait. Sedangkan jamu memerlukan ijin khusus dari instansi berwenang dalam hal ini BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). BPOM mempersyaratkan beberapa hal yang harus dimiliki oleh produk herbal untuk dapat disebut sebagai jamu, yaitu :

  1. Memiliki standar keamanan produk sesuai persyaratan yang ditetapkan
  2. Adanya bukti klaim akan khasiat obat herbal tersebut yang didasarkan pada data empiris (pengakuan masyarakat)
  3. Memenuhi standar mutu yang berlaku

Dari beberapa hal yang dipersyaratkan tersebut, dapat kita ambil kesimpulan bahwa jamu hanya membutuhkan bukti empiris berupa pengakuan masyarakat yang mengkonsumsi jamu tersebut. Atau dengan kata lain cukup dengan testimoni. Ketika ada sekelompok orang yang mengkonsumsi ramuan herbal tertentu dan mendapatkan manfaat dari ramuan tersebut, maka ramuan itu dapat dikategorikan sebagai jamu.

  1. Obat Herbal Terstandar

Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan

khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasi. Untuk membuat suatu produk herbal yang memiliki label OHT (Obat Herbal Terstandar) diharuskan memenuhi beberapa persyaratan yang lebih rumit dibanding jamu.

Dalam Peraturan Kepala BPOM RI tentang Kriteria dan Tatalaksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka disebutkan bahwa untuk dapat memiliki izin edar, obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. menggunakan bahan berkhasiat dan bahan tambahan yang memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan / khasiat;
  2. dibuat sesuai dengan ketentuan tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik atau Cara Pembuatan Obat yang Baik yang berlaku;
  3. penandaan berisi informasi yang lengkap dan obyektif yang dapat menjamin penggunaan obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka secara tepat, rasional dan aman sesuai dengan hasil evaluasi dalam rangka pendaftaran.

 

  1. Fitofarmaka

Fitofarmaka berasal dari kata fitos yang artinya tanaman dan farmakon yang artinya obat, jadi kalau diartikan fitofarmaka berarti obat yang berasal dari tanaman. Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi.

Fitofarmaka menduduki kasta tertinggi dalam tingkatan di dunia herbal. Karena untuk mendapatkan label fitofarmaka, membutuhkan riset bertahun-tahun dengan biaya mencapai miliaran rupiah. Di Indonesia saja baru ada 5 perusahaan yang mengeluarkan produk fitofarmaka. Dan dari 5 perusahaan tersebut, hanya ada satu perusahaan jamu yang memiliki produk fitofarmaka, yaitu Nyonya Meneer.

Untuk mendapatkan label fitofarmaka memang dibutuhkan syarat yang rumit. Diantaranya uji toksisitas, uji farmakologi dan uji klinik fitofarmaka. Dari berbagai syarat yang ditetapkan, dapat diambil kesimpulan bahwa produk fitofarmaka harus memiliki beberapa unsur :

  1. Aman
  2. Terbukti khasiatnya
  3. Berbahan baku dan memiliki mutu sesuai standar yang berlaku

Level tertinggi obat herbal ini membuat fitofarmaka berani tampil sejajar dengan obat-obat kimia. Dan di Indonesia fitofarmaka yang diproduksi oleh perusahaan farmasi telah digunakan di beberapa rumah sakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *